Sabtu, 31 Juli 2010

PTK Seni Budaya (penggunaan metode drill dalam menggambar bentuk BAB I)

PENGGUNAAN METODE DRIL SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGGAMBAR BENTUK BUAH-BUAHAN PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS VII A DI MTs YASIN GEMOLONG TAHUN PELAJARAN 2009/2010




Oleh :
Wisnu Widiyanto
NIM. K3204026



Skripsi
Ditulis Dan Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Seni Rupa Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Seni




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2010


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu proses untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, oleh sebab itu program-program maupun metode-metode khususnya dalam proses pembelajaran dibidang pendidikan, harus ditinjau kembali secara periodik agar mampu mengimbangi laju pertumbuhan, maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa yang akan datang.
Bidang pendidikan dapat menjadi satu pemicu dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional, oleh karena itu sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan pada bidang pendidikan. Keberhasilan suatu proses pendidikan sangat diperlukan adanya keharmonisan kerjasama antar komponen yang ada di dalamnya. Komponen yang dimaksud adalah guru, siswa, bahan ajar/ materi, alat/ media dan metode pembelajaran serta evaluasi yang digunakan sebagai kriteria untuk mengukur keberhasilan suatu program. Metode pembelajaran merupakan salah satu variabel yang diperlukan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui kekuatan minat siswa sekaligus menjadi umpan balik bagi guru untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar yang diarahkan pada tujuan yang akan dicapai. Dalam kaitannya dengan permasalahan ini maka kegiatan belajar bagi siswa dan kemitraan yang dilakukan guru dalam kegiatan mengajar merupakan hal penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ngalim Purwanto mengemukakan bahwa belajar pada dasarnya merupakan perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (1992: 84). Kegiatan belajar lebih lanjut ditegaskan bahwa ia merupakan segenap rangkaian peristiwa atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang sehingga bisa menimbulkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya. Oleh sebab itu apabila setelah belajar peserta didik tidak ada perubahan tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah, maka dapat dikatakan bahwa belajarnya belum sempurna.
Pendidikan seni rupa di SLTP/ MTs saat ini semakin berkembang pesat, sehingga sebagai calon maupun tenaga pendidik perlu mencari model-model pembelajaran yang inovatif untuk lebih meningkatkan kualitas output peserta didiknya seperti dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 pasal 3 Tahun 2003, Undang-Undang RI No 12 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 yang mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan seni rupa di SLTP/ MTs memiliki tujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan siswa agar dapat berkreasi serta menghargai kerajinan tangan dan kesenian, sehingga siswa dapat belajar untuk mengembangkan bakat seninya masing-masing. Pendidikan seni rupa sangat berhubungan erat dengan istilah menggambar. dimana menggambar itu sendiri menurut Muharam dan Sundaryati dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Kesenian II Seni Rupa” yaitu penyajian ilusi optik atau manipulasi ruang dalam bidang datar dua dimensi (1991: 95). Sedangkan menurut Edy Tri Sulistyo gambar bentuk itu sendiri dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu gambar bentuk benda-benda geometris dan gambar bentuk flora-fauna (2006: 123).
Pembelajaran merupakan upaya yang sistematis dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar terjadi kegiatan belajar-membelajarkan (pembelajaran). Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Menurut Newman dan Mogan dalam terjemahan Surya Dharma mengungkapkan bahwa strategi dasar setiap usaha meliputi empat masalah masing-masing, yaitu: (1) mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku kepribadian peserta didik yang diharapkan; (2) memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat; (3) memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat, efektif, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya; dan (4) menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria dan standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan system instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan (2008: 7).
Menurut Sriyono, ada sepuluh (10) jenis metode mengajar, yaitu: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode drill (latihan), metode resitasi (pemberian tugas), metode demonstrasi (eksperimen), metode sosiodrama, metode problem solving (pemecahan masalah), metode karya wisata dan metode kerja kelompok (1992: 99-122). Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembeljaran yang diinginkan, seorang guru harus bisa melihat situasi dan kondisi siswa dalam pemilihan metode yang tepat, agar tujuan dari pembelajaran tersebut bisa mencapai tujuan yang ingin diinginkan.
Menurut Sofa dikutip dari www.massofa.wordpress.com 11 Januari 2008 “fungsi proses belajar-mengajar seni rupa dan kerajinan dalam pembelajaran kelas-formal adalah tertuju pada pengembangan pengalaman ekspresi emosional dalam bersikap, berpikir, berperhatian dan berminat (internal), melalui latihan kemampuan mewujudkan ekspresi esetika dalam perwujudan rupa dwimatra atau trimatra (eksternal)”. Namun demikian hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa kebanyakan dari guru-guru kesenian di SMP/ MTs, khususnya dalam hal pelajaran menggambar lebih cenderung memilih menggunakan metode pemberian tugas kepada peserta didiknya, tanpa memberikan pemahaman dan pelatihan terlebih dahulu mengenai teknik menggambar yang baik dan benar, sehingga siswa yang memiliki daya kreativitas rendah cenderung sulit untuk bisa mengembangkan bakat dan kemampuannya. Temuan di kelas juga membuktikan bahwa selama ini kegiatan pembelajaran mata pelajaran seni budaya di SMP berlangsung kurang maksimal, karena ada kecenderungan siswa malas mengikuti pelajaran seni budaya dengan berbagai alasannya. Hasil pengamatan di kelas menguatkan bahwa siswa tidak tertarik mengikuti pelajaran seni budaya disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
1. Siswa malas mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya
2. Siswa kurang tertarik terhadap pelajaran yang disampaikan.
3. Siswa cenderung berbicara sendiri atau mengantuk sebagai kompensasi keterbatasan kemampuan atau kurangnya memiliki minat.
Berbagai faktor tersebut di atas merupakan indikator rendahnya minat belajar anak terhadap pelajaran seni budaya, yang pada gilirannya dalam hasil observasi tindakan refleksi awal tersebut dapat diketahui dampak lanjutan dari faktor-faktor di atas, yaitu :
1. Siswa terlihat enggan bertanya akan kesulitan yang dihadapi.
2. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diberikan guru.
3. Siswa mengalami kesulitan untuk mendeskripsikan prosedur kerja atau langkah-langkah kerja dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
4. Dampak yang paling parah adalah rendahnya karya finishing siswa, sehingga standart ketuntasan mutu (SKM) mata pelajaran seni budaya pada umumnya rendah.
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan metode pembelajaran pemberian tugas pada mata pelajaran seni budaya khususnya dalam sub pokok bahasan menggambar bentuk, belum bisa memberikan hasil yang maksimal pada peserta didik. Kondisi ini terungkap dari hasil refleksi awal selama berlangsungnya aktivitas proses pembelajaran mata pelajaran seni budaya khusunya pada sub pokok bahasan menggambar bentuk menunjukkan bahwa dari 25 siswa hanya beberapa siswa yang bisa dikatakan tuntas dalam belajarnya, secara klasikal ketuntasan belajar di kelas tersebut hanya mencapai 12 % dari yang seharusnya dicapai yakni 85 %. Persentase ketuntasan siswa tersebut sangat jauh dari prosedur pelaksanaan pembelajaran kurikulum 1994 yang menekankan bahwa seorang siswa dinyatakan tuntas belajar bila telah mencapai skor 65 % atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut 85 % yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65 % (Depdikbud, 1994).
Bertolak dari hasil belajar siswa, dengan dibantu beberapa guru lain (teman sejawat) maka dilakukan upaya refleksi dan pengkajian secara kritis untuk mengungkap penyebab masalah rendahnya kemampuan siswa kelas VII A MTs Yasin Gemolong dalam menggambar bentuk. Dari hasil refleksi awal ini ditengarai beberapa indikasi yang diasumsikan sebagai penyebab rendahnya hasil belajar siswa dalam keterampilan menggambar bentuk, yaitu: (1) guru dalam menyampaikan materi pelajaran terlalu menitikberatkan pada penggunaan metode pemberian tugas, sebagian besar waktu belajar dipergunakan untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan guru pada siswa tanpa memberikan bimbingan maupun latihan lebih mendalam tentang menggambar bentuk yang baik dan benar; (2) penekanan proses pembelajaran lebih terfokus pada aspek psikomotor tentang menggambar bentuk; (3) hubungan guru dengan siswa dalam aktivitas proses belajar mengajar relatif bersifat formal dan kaku, dan (4) pendekatan proses pembelajaran yang dipergunakan guru lebih mengarah pada isi buku teks dan beberapa contoh gambar bentuk yang telah ditentukan sehingga membuat siswa relatif pasif untuk meningkatkan kreativitasnya.
Melihat hasil refleksi tersebut, maka perlu dilakukan suatu tindakan perbaikan dan penyempurnaan pembelajaran menggambar bentuk pada siswa kelas VII A MTs Yasin Gemolong kearah yang lebih baik melalui penggunaan metode dril. Dasar dari pertimbangan dalam memilih penerapan penggunaan metode dril pada proses belajar menggambar bentuk buah-buahan tersebut karena metode dril sesuai dengan kebutuhan siswa pada saat itu yang memerlukan pelatihan khusus dalam tata cara menggambar bentuk yang baik dan benar, sehingga diharapkan siswa mampu mengembangkan bakat dan kreativitasnya karena telah terbiasa melakukan latihan menggambar bentuk sesuai dengan arahan dan pengetahuan yang telah diberikan guru mengenai prinsip-prinsip dalam menggambar bentuk. Sesuai dengan permasalahan tersebut gagasan yang digunakan untuk menyempurnakan proses pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya yakni melalui sebuah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan praktek menggambar bentuk buah-buahan pada siswa kelas VII A di MTs Yasin Gemolong, dengan mengkhususkan menggunakan metode dril. Seperti yang diungkapkan oleh Sriyono dalam bukunya yang berjudul ”Teknik Belajar Mengajar dalam CBSA” yang menyatakan bahwa kelebihan dari metode dril adalah sebagai berikut: (1) proses pengulangan yang mengkondisi siswa dengan stimulus–stimulus tertentu akan dapat membina pengetahuan dan keterampilan yang kokoh tertanam dalam diri siswa, (2) hasil yang dicapai metode ini mempunyai nilai praktis atau aplikasi yang tinggi dalam kehidupan siswa, khususnya yang kondisinya sama dengan yang dibina, (3) metode ini memungkinkan terbinanya spesifikasi yang tajam dalam pengetahuan siap dan keterampilan siswanya (1992: 113). Diharapkan dengan adanya perubahan metode tersebut siswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam proses menggambar bentuk buah-buahan secara baik dan benar, sehingga siswa bisa mencapai hasil yang maksimal.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dalam kajian penulisan ini ditetapkan topik penelitian dengan judul “Penggunaan Metode Dril Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menggambar Bentuk Buah-Buahan Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas VII A Di MTs Yasin Gemolong Tahun Pelajaran 2009/2010”.

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penggunaan metode dril dapat meningkatkan kemampuan menggambar bentuk buah-buahan pada siswa kelas VII A di MTs Yasin Gemolong tahun pelajaran 2009/2010?

C. Tujuan Penelitian.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar bentuk buah-buahan melalui penggunaan metode dril pada mata pelajaran seni budaya Kelas VII A di MTs Yasin Gemolong tahun pelajaran 2009/2010.

D. Manfaat Penelitian.
Peneliti berharap pada hasil akhir penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
1. Bagi Siswa,
a. Siswa dapat menggambar bentuk dengan objek buah-buahan secara baik dan benar sesuai dengan aspek-aspek yang dilatihkan.
b. Dalam melanjutkan proses pembelajaran seni budaya pada tingkat yang lebih rumit siswa bisa mengikuti dengan mudah karena telah memiliki kemampuan dasar menggambar bentuk.
c. Hasil belajar siswa khusunya dalam pembelajaran seni budaya bisa lebih maksimal.

2. Bagi Guru.
a. Guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran seni budaya.
b. Sebagai informasi kepada guru maupun calon guru dalam mengembangkan kemampuan menggambar bentuk dengan objek buah-buahan yang baik.

3. Bagi Sekolah.
Sebagai masukan dalam rangka mengefektifkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber belajar dalam pelaksanaan pendidikan seni rupa di SMP/ MTs.

4. Bagi Peneliti.
Sebagai bahan awal atau rujukan untuk bisa dikaji secara mendalam dan dikembangkan lagi lebih lanjut agar proses tindakan perbaikan yang serupa bisa ditingkatkan dan disempurnakan lagi




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar